Tadarus Ramadhan Juz 6

TADARUS JUZ 6 MEWASPADAI PELANGGARAN SYARIAT (Q.S. al-Nisa’ [4]: 148 s/d 176 & al-Ma’idah [5]: 1 s/d 82)   Bom Bunuh Diri...

TADARUS JUZ 6

MEWASPADAI PELANGGARAN SYARIAT

(Q.S. al-Nisa’ [4]: 148 s/d 176 & al-Ma’idah [5]: 1 s/d 82)


 
Bulan Ramadhan
Bom Bunuh Diri di Indonesia Merupakan Bentuk Pelanggaran Syariat Zaman Now

Dr. Rosidin, M.Pd.I
www.dialogilmu.com
 
Pelanggaran syariat dilakukan melalui perkataan, perbuatan dan sikap. Lisan adalah sumber “produktif” pelanggaran syariat berupa perkataan. 

Pelanggaran Syariat Berupa Perkataan

Pertama, komentar negatif, tanpa alasan yang dibenarkan syariat, seperti dizhalimi (Q.S. al-Nisa’ [4]: 148).

Asbab al-nuzul ayat ini berkenaan dengan Malik ibn al-Dukhsyum RA. Karena Malik sering terlihat berkumpul bersama kaum munafik, akhirnya ada orang berkomentar negatif: “Dia adalah orang munafik”. Lalu Rasulullah SAW menjawab: “Jangan berkomentar seperti itu, bukankah engkau sudah melihat dia mengucapkan ‘Tiada tuhan selain Allah’ dengan mengharap ridha Allah?”. 

Saat ini pun, hanya berdasarkan penilaian dangkal dan sekilas, orang mudah sekali berkomentar negatif dengan memberikan cap kafir, musyrik, murtad, munafik, sesat, komunis, atheis, penista agama, dan aneka komentar negatif lainnya.

Kedua, pernyataan yang tidak sesuai fakta. 

Misalnya, kaum Yahudi mengklaim telah membunuh Nabi ‘Isa AS (Q.S. al-Nisa’ [4]: 157); kaum Nasrani mengklaim Nabi ‘Isa AS adalah salah satu dari tiga tuhan (trinitas) (Q.S. al-Nisa’ [4]: 171); kaum Yahudi dan Nasrani sama-sama mengklaim sebagai anak-anak atau kekasih-kekasih Allah SWT (Q.S. al-Ma’idah [5]: 18). 

Klaim-klaim seperti ini identik dengan berita palsu (hoax) yang dipoles sehingga terdengar bombastis dan menarik perhatian. Padahal jauh dari kebenaran atau fakta. Oleh sebab itu, Allah SWT menyeru agar tidak membuat klaim bombastis, terutama menyangkut agama; dan klaim haruslah didasarkan fakta (Q.S. al-Nisa’ [4]: 171). 

Ketiga, janji yang dikhianati.

Misalnya, kaum Yahudi sering berjanji kepada Allah SWT dan hampir selalu berkhianat (Q.S. al-Nisa’ [4]: 154-155). Sampai saat ini pun, perilaku Yahudi Israel masih sama, yaitu gemar melanggar perjanjian. Di sisi lain, fenomena identik dapat dijumpai pada janji calon pemimpin sebelum pemilihan. Begitu menjabat, janji tersebut tinggal “pepesan kosong” yang tidak ada realisasinya. 

Oleh sebab itu, Allah SWT menyeru umat muslim agar memenuhi janji-janji (Q.S. al-Ma’idah [5]: 1). Artinya, jika melanggar janji, berarti keimanan dan keIslamannya patut disangsikan.

Pelanggaran Syariat Berupa Perbuatan

Pelanggaran syariat melalui perbuatan melibatkan anggota tubuh, seperti perut. Pertama, mengonsumsi bahan makanan haram, seperti bangkai, darah, babi dan sesajen (Q.S. al-Ma’idah [5]: 3). Kedua, memperoleh rezeki secara haram, seperti riba (Q.S. al-Nisa’ [4]: 161), pencurian (Q.S. al-Ma’idah [5]: 39), bahkan tega melakukan perampokan disertai pembunuhan (Q.S. al-Ma’idah [5]: 33). 

Oleh sebab itu, al-Qur’an mengajarkan umat muslim agar memenuhi kebutuhan perut dengan makanan yang baik (thayyib) (Q.S. al-Ma’idah [5]: 4). Baik dari segi bahan makanan maupun cara pemerolehan.  
 
Tangan juga menjadi sarana manusia melanggar syariat. Misalnya, Qabil membunuh dengan cara menimpakan batu ke kepala Habil yang sedang tidur (Q.S. al-Ma’idah [5]: 30). 

Pencurian dan perampokan juga pelanggaran syariat melalui tangan. Pelanggaran syariat melalui tangan bisa berupa kekikiran, seperti kekikiran kaum Yahudi yang diilustrasikan sebagai “tangan yang terbelenggu”; sedangkan kedermawanan Allah SWT diilustrasikan sebagai “dua tangan yang terbuka lebar” (Q.S. al-Ma’idah [5]: 64).

Pelanggaran Syariat Berupa Sikap

Pelanggaran syariat berupa sikap meliputi banyak hal, antara lain:

Pertama, sikap beragama yang oportunis, yaitu melaksanakan ajaran yang menguntungkan dan meninggalkan ajaran yang merugikan (Q.S. al-Nisa’ [4]: 150). 

Misalnya, memakai kopyah atau jilbab ketika menguntungkan kepentingan pribadi; dan menanggalkannya ketika merugikan kepentingan pribadi. 

Kedua, memberi keputusan hukum tidak berdasarkan hukum Allah SWT, baik secara tekstual maupun kontekstual; justru memutuskan berdasarkan hukum Jahiliyah (Q.S. al-Ma’idah [5]: 44-50). 

Misalnya, melegalkan LGBT atas nama HAM, padahal jelas-jelas tidak sesuai dengan syariat Islam, baik secara tekstual maupun kontekstual. 

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Nama

Arabic,8,Buku,19,English,1,Formal,24,Gallery,1,Indonesia,1,Informal,24,Informasi,3,JurnalIlmiah,13,Korespondensi,1,MakalahIlmiah,6,MOTIVASI,14,Non-formal,7,PAI,12,Profil,2,Resensi,2,StudiIslami,103,TafsirTarbawi,39,
ltr
item
DIALOG ILMU: Tadarus Ramadhan Juz 6
Tadarus Ramadhan Juz 6
https://1.bp.blogspot.com/-cQPM3elYxro/WwOBNzWSvcI/AAAAAAAABGk/_dnZ8OZJawsMogpLhOvICoZtpbu1AMHIACLcBGAs/s640/www.dialogilmu.com%2Btadarus%2Bjuz%2B6.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-cQPM3elYxro/WwOBNzWSvcI/AAAAAAAABGk/_dnZ8OZJawsMogpLhOvICoZtpbu1AMHIACLcBGAs/s72-c/www.dialogilmu.com%2Btadarus%2Bjuz%2B6.JPG
DIALOG ILMU
http://www.dialogilmu.com/2018/05/tadarus-ramadhan-juz-6.html
http://www.dialogilmu.com/
http://www.dialogilmu.com/
http://www.dialogilmu.com/2018/05/tadarus-ramadhan-juz-6.html
true
1758165964677023620
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy