Pemblokiran Tik Tok dari Perspektif Islam

PEMBLOKIRAN TIK TOK DARI PERSPEKTIF ISLAM Tik Tok sebagai Gaya Hidup Milenial yang Perlu Dievaluasi  Dr. Rosidin, M.Pd.I ww...

PEMBLOKIRAN TIK TOK DARI PERSPEKTIF ISLAM


Tik Tok sebagai Gaya Hidup Milenial yang Perlu Dievaluasi 


Dr. Rosidin, M.Pd.I
www.dialogilmu.com


Prasyarat utama agar umat muslim menyandang status khaira ummah (umat terbaik) adalah amar ma’ruf nahi munkar yang dilandasi nilai-nilai keimanan (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 110). Atas dasar itu, kebijakan pemerintah untuk memblokir aplikasi Tik Tok merupakan aktualisasi nahi munkar yang pantas diapresiasi.
 
Ironisnya, ada saja pihak yang tidak menyetujui kebijakan pemblokiran tersebut dengan berbagai alibi. Hemat penulis, sikap yang demikian itu tidak wajar, jika mempertimbangkan beberapa aspek berikut.

Pertama, saat suatu negara dalam keadaan genting, entah sedang berpotensi bencana alam maupun terjadi konflik sosial, sudah maklum jika ada kebijakan dari negara lain untuk mengeluarkan travel advice (peringatan keamanan) hingga travel warning (larangan kunjungan) ke negara tersebut, demi keselamatan warga negaranya. Hampir semua manusia normal pasti menyetujui kebijakan “pemblokiran” kunjungan tersebut, karena menyangkut keamanan jiwa-raga. 

Jika meninjau perkembangan penggunaan Tik Tok, dapat dikatakan bahwa Tik Tok lebih banyak disalah-gunakan, sehingga dinilai membahayakan moral anak bangsa. Salah satu indikatornya, saat seseorang menulis kata “aplikasi goblok” pada Google Play, maka aplikasi yang muncul adalah Tik Tok. Oleh sebab itu, wajar jika muncul kebijakan pemblokiran aplikasi ini, agar tidak terjadi wabah “goblok berjamaah”.

Mengacu pada pentahapan hukum dalam al-Qur’an, terutama larangan minuman keras (miras; khamr), pemerintah dapat menerapkan tiga langkah strategis: 

(1) Mengevaluasi sisi positif dan negatif penggunaan Tik Tok melalui riset ilmiah. Secara hipotesis, dapat dinyatakan bahwa penggunaan Tik Tok lebih banyak mafsadatnya dibandingkan manfaatnya, sebagaimana khamr yang bisa jadi bermanfaat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan minuman keras, namun mafsadatnya menimpa masyarakat dalam skala yang jauh lebih banyak dan luas (Q.S. al-Baqarah [2]: 219). 

(2) Melakukan pembatasan penggunaan. Bagi pengguna aktif internet di Indonesia, tentu tidak asing dengan peringatan “Internet Positif” saat mengakses situs yang ilegal atau mengandung konten negatif. Jadi, pemerintah dapat melakukan pembatasan sebagai “sensor” terhadap konten Tik Tok. 

Hal ini sama dengan kebijakan larangan mengonsumsi miras saat menjelang waktu shalat, karena dikhawatirkan mendirikan shalat dalam keadaan mabuk yang membuat shalat tidak sah (Q.S. al-Nisa’ [4]: 43). Saat itu, konsumsi miras dibatasi saat menjelang waktu shalat. Setelah itu, diperkenankan mengonsumsi miras, semisal setelah shalat Isya’. Ini tahap kedua pengharaman miras.

(3) Melakukan pemblokiran secara permanen. Apabila konten negatif Tik Tok sudah tidak dapat ditoleransi lagi; dan masyarakat sudah memiliki alternatif aplikasi lain untuk mengekspresikan diri secara lebih positif; maka Tik Tok dapat diblokir secara permanen. Hal ini selaras dengan larangan mengonsumsi miras yang berlaku permanen sepanjang zaman (Q.S. al-Ma’idah [5]: 90). 

Kedua, Rasulullah SAW mengibaratkan hidup bermasyarakat itu seperti penumpang kapal berlantai dua (H.R. al-Bukhari). Saat penumpang lantai satu melobangi kapal demi mendapatkan air; jangan sampai penumpang lantai dua bersikap acuh tak acuh, karena merasa bagian kapal yang rusak adalah lantai satu. Hal ini dikarenakan kerusakan bagian kapal lantai satu, dapat mengakibatkan kapal tenggelam, sehingga dampak negatif tidak hanya dirasakan penumpang kapal lantai satu, melainkan juga penumpang kapal lantai dua. Dalam Surat al-Anfal [8]: 25 dinyatakan, “Waspadalah terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa pada orang zhalim semata (melainkan juga akan menimpa orang-orang selain mereka)” (Tafsir al-Jalalain).

Hal ini juga diperkuat Hak Asasi Manusia (HAM). HAM bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dibatasi oleh hak asasi orang lain. Bagaimana bisa orang berkomentar semacam, “Tik Tok tidak perlu diblokir, kalau memang orangtua pandai mendidik anaknya, tentu Tik Tok tidak akan merusaknya”. Ini adalah jenis komentar orang yang sudah terlalu lama bergaya hidup kapitalis, sehingga egoismenya menjadi watak yang banal. Yaitu watak yang salah, namun karena terus-menerus diikuti, maka menjadi kebenaran bagi pemiliknya. Komentar seperti ini mirip seperti logika berpikir penumpang kapal lantai dua yang disinggung paragraf di atas.

Itulah kiranya mengapa Rasulullah SAW mengajarkan bahwa salah satu indikator iman seseorang adalah “mencintai saudaranya, seakan-akan mencintai dirinya sendiri” (H.R. al-Bukhari). Sikap ini disebut empati, yaitu menempatkan situasi yang dialami orang lain, seakan-akan dialami sendiri, sehingga lebih bijaksana dalam menanggapi sesuatu. Misalnya, “Bagaimana jika yang ‘mempertuhankan Bowo’ itu adalah anak saya?”, “Apakah saya tetap akan membolehkannya bermain Tik Tok?”, demikian seterusnya. Tentu, tanggapan yang dilandasi sikap empati, berbeda sekali dengan tanggapan yang dilandasi sikap acuh tak acuh.

Ketiga, kebijakan pemerintah untuk pemblokiran Tik Tok yang dinilai meresahkan masyarakat, selaras dengan sejumlah Kaidah Fikih. Antara lain: “Kebijakan pemimpin atas rakyatnya, didasarkan pada kemaslahatan” (tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuth bi al-mashlahah) dan “Bahaya itu harus dilenyapkan” (al-dhararu yuzalu). 

Lebih dari itu, Ushul Fikih melegitimasi kebijakan pemblokiran Tik Tok melalui sumber sekunder hukum Islam, yaitu Sadd al-Dzari’ah. Yaitu upaya pemblokiran terhadap sarana-sarana yang berpotensi mengakibatkan hal-hal negatif. Misalnya, umat muslim dilarang menghina agama lain, karena pemeluk agama lain tersebut akan membalas dengan menghina agama Islam (Q.S. al-An’am [6]: 108). 

Pada akhirnya, semoga kita lebih bijaksana dalam menyikapi pemblokiran Tik Tok. Refleksikan dalam diri bahwa kebijakan pemblokiran Tik Tok itu sama seperti orang yang memberi tanda pada bagian jalan yang berlubang, sehingga pengguna jalan tidak sampai terperosok di jalan berlubang tersebut. Bukankah semua pengguna jalan merasa senang, tidak terganggu sekali dengan adanya tanda peringatan tersebut? Sikap ini dikarenakan dia merasa diselamatkan dari hal-hal negatif yang dapat terjadi, seandainya tidak ada tanda peringatan tersebut. 

Wallahu A’lam bi al-Shawab.   

Nama

Arabic,8,Buku,19,English,1,Formal,24,Gallery,1,Indonesia,1,Informal,24,Informasi,3,JurnalIlmiah,13,Korespondensi,1,MakalahIlmiah,6,MOTIVASI,14,Non-formal,7,PAI,12,Profil,2,Resensi,2,StudiIslami,103,TafsirTarbawi,39,
ltr
item
DIALOG ILMU: Pemblokiran Tik Tok dari Perspektif Islam
Pemblokiran Tik Tok dari Perspektif Islam
https://4.bp.blogspot.com/-PHHQE0CX-mA/Wz7YWFOHh0I/AAAAAAAABJY/IjIP9HgibrAlzEExSajfJf7RvEFw92zWwCLcBGAs/s640/www.dialogilmu.com%2Bblokir.JPG
https://4.bp.blogspot.com/-PHHQE0CX-mA/Wz7YWFOHh0I/AAAAAAAABJY/IjIP9HgibrAlzEExSajfJf7RvEFw92zWwCLcBGAs/s72-c/www.dialogilmu.com%2Bblokir.JPG
DIALOG ILMU
http://www.dialogilmu.com/2018/07/pemblokiran-tiktok-dari-perspektif-islam.html
http://www.dialogilmu.com/
http://www.dialogilmu.com/
http://www.dialogilmu.com/2018/07/pemblokiran-tiktok-dari-perspektif-islam.html
true
1758165964677023620
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy