Tadarus Ramadhan Juz 2

TADARUS JUZ 2
PUSPARAGAM SYARIAT ISLAM

(Q.S. al-Baqarah [2]: 142 s/d 252)


 
Bulan Ramadhan
Memadukan Ibadah dengan Muamalah

Dr. Rosidin, M.Pd.I
www.dialogilmu.com

Syariat Islam merupakan pedoman hidup (way of life) bagi setiap muslim. Juz 2 yang memuat Surat al-Baqarah [2]: 142-252 mencakup pusparagam syariat Islam, baik Ibadah (Hablum min Allah) maupun Muamalah (Hablum min al-Nas).

Pertama, Ibadah


Meliputi Rukun Islam: 

(a) Shalat


Shalat dilaksanakan menghadap ke kiblat (Q.S. al-Baqarah [2]: 144) dan diiringi sikap sabar (Q.S. al-Baqarah [2]: 153), semisal tetap shalat khauf di tengah perang berkecamuk (Q.S. al-Baqarah [2]: 239). 

(b) Zakat


Zakat merupakan ibadah sosial berbasis harta yang perlu ditambah dengan infak, sedekah, hibah, wakaf dan wasiat, dalam rangka solidaritas sosial terhadap mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim, fakir-miskin dan pengemis (Q.S. al-Baqarah [2]: 177). 

(c) Puasa


Puasa wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan yang perlu dilengkapi dengan ibadah lainnya, seperti tadarus al-Qur’an, berdoa, i’tikaf di masjid dan takbiran sejak malam Idul Fitri (Q.S. al-Baqarah [2]: 183-188).

(d) Haji dan Umrah

Haji dan Umrah diwajibkan bagi umat muslim yang mampu; namun Haji hanya boleh dilaksanakan pada bulan-bulan yang sudah ditentukan, yaitu Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah (Q.S. al-Baqarah [2]: 196-197). 

Kedua, Muamalah


Meliputi berbagai dimensi kemanusiaan

(a) Sosial 

Interaksi intra umat muslim diikat suatu titik kesamaan, seperti kiblat. Di mana pun dan dari manapun, umat muslim memiliki kiblat sama, yaitu Ka’bah di Masjidil Haram (Q.S. al-Baqarah [2]: 148-150). Interaksi antar umat beragama diikat sikap toleransi yang tidak sampai menabrak prinsip agama. Semisal kiblat umat muslim (Ka’bah) berbeda dengan kiblat kaum Yahudi (Baitul Maqdis) (Q.S. al-Baqarah [2]: 145). Jika sampai melanggar prinsip agama, maka Islam memperkenankan perang di jalan Allah, terutama memerangi kaum kafir yang menyiksa umat muslim agar keluar dari Islam (murtad), seperti yang dialami Bilal ibn Rabah RA (Q.S. al-Baqarah [2]: 216-217). 

(b) Ekonomi


Umat muslim hanya boleh mengonsumsi menu yang halal dan thayyib. Halal berarti menunya sah menurut Islam; thayyib berarti sesuai atau cocok dengan orang yang mengonsumsi (Q.S. al-Baqarah [2]: 168-169). Semisal, ASI thayyib bagi bayi, namun sambal tidak thayyib bagi bayi. Sebaliknya, umat muslim dilarang mengonsumsi menu haram, seperti bangkai, darah, babi, sesajen berhala (Q.S. al-Baqarah [2]: 172-173), dan khamr (miras; arak), yang sekarang meliputi narkotika (Q.S. al-Baqarah [2]: 219). Selain itu, cara memperoleh rezekinya (pekerjaannya) juga harus halal dan thayyib, bukan haram, seperti judi (Q.S. al-Baqarah [2]: 219) dan merebut hak milik orang lain dengan ilegal (Q.S. al-Baqarah [2]: 188). 

(c) Pidana (Jinayah)


Misalnya, pelaku pidana pembunuhan dihukum qishash (Q.S. al-Baqarah [2]: 178-179). Demikian juga pelaku perusakan lingkungan alam dan sosial harus diberi hukuman setimpal (Q.S. al-Baqarah [2]: 205). 

(d) Keluarga (Ahwal al-Syakhshiyyah)


Mulai dari larangan menikah dengan non-muslim (Q.S. al-Baqarah [2]: 221); anjuran membina keluarga harmonis (Q.S. al-Baqarah [2]: 223-224); dalam kondisi tertentu, istri bisa dicerai (thalaq) oleh suami; cerai otomatis akibat wafatnya suami. Ketika istri berstatus janda, disyariatkan masa menunggu (‘iddah). Misalnya, istri yang dicerai suami, ‘iddahnya tiga kali suci (Q.S. al-Baqarah [2]: 228); dan istri yang ditinggal wafat suami, ‘iddahnya empat bulan sepuluh hari (Q.S. al-Baqarah [2]: 226). Seorang ayah wajib menafkahi keluarga; dan seorang ibu dianjurkan memberi ASI anaknya selama dua tahun (Q.S. al-Baqarah [2]: 233). 

(e) Politik (Siyasah)


Memilih pemimpin politik yang memiliki kelebihan fisik dan intelektual, seperti Raja Thalut (Q.S. al-Baqarah [2]: 247); serta gagah berani dan bijaksana, seperti Nabi Dawud AS (Q.S. al-Baqarah [2]: 251). 

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel