Tadarus Ramadhan Juz 9

TADARUS JUZ 9

RELASI PENUNTUN UMAT DAN MASYARAKAT

(Q.S. al-A’raf [7]: 88 s/d 206 & al-Anfal [8]: 1 s/d 40)


 
Bulan Ramadhan
Ilustrasi Relasi Harmoni Ulama dengan Umat

Dr. Rosidin, M.Pd.I
www.dialogilmu.com
 
Seorang guru pasti akan memberikan ujian kepada siswa dalam bentuk PR, ulangan atau ujian semester. Ujian tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan. Demikian halnya Allah SWT memberikan ujian dan musibah kepada umat manusia untuk mendidik mereka agar menyadari kelemahan diri sendiri dan meyakini kekuasaan Allah SWT Yang Maha Kuasa (Q.S. al-A’raf [7]: 94).

Suatu saat, seorang guru memberi hukuman kepada siswa yang melanggar tata tertib, berupa teguran hingga lari keliling lapangan. Demikian halnya Allah SWT menimpakan bencana kepada umat manusia secara mendadak, saat mereka sedang terlelap tidur di malam hari atau terbuai hiburan di siang hari. Bencana tersebut sebagai “teguran” atas perilaku manusia yang bertolak-belakang dengan nilai-nilai ketakwaan (Q.S. al-A’raf [7]: 96-98).

Agar perilaku masyarakat tidak bertolak-belakang dengan nilai-nilai ketakwaan, dibutuhkan figur penuntun umat yang mewarisi tugas kerasulan. Dalam hal ini, Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS dapat dijadikan teladan. Beliau berdua harus menghadapi pemerintah tirani yang bengis (Fir’aun) dan didukung para “ilmuwan” handal (tukang sihir). Namun, beliau berdua berhasil mengajak para tukang sihir Fir’aun menjadi kaum yang beriman kepada Allah SWT. Bahkan keimanan mereka begitu kokoh, karena tidak goyah menghadapi ancaman Fir’aun yang akan memotong tangan dan kaki mereka secara menyilang, lalu menyalib mereka (Q.S. al-A’raf [7]: 103-126). 

Lebih dari itu, penuntun umat harus rela menerima perlakuan masyarakat yang tidak adil. Misalnya, saat meraih kesuksesan, masyarakat mengklaim sebagai hasil jerih payah mereka sendiri, tanpa ada sangkut-pautnya dengan penuntun umat. Namun, saat mengalami kegagalan, masyarakat buru-buru menyalahkan penuntun umat. Hal ini pernah dialami oleh Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS (Q.S. al-A’raf [7]: 131). 

Fenomena di atas juga dapat dicermati dalam dunia pendidikan. Misalnya, ketika siswa meraih prestasi olimpiade, maka siswa tersebut dinilai hebat, tanpa menyebut-nyebut jasa guru atau mentornya. Namun, ketika siswa terlibat tawuran pelajar, maka guru yang pertama kali dikritik dengan pedas.

Meskipun perlakuan masyarakat cenderung tidak adil, tetap saja mereka membutuhkan figur penuntun umat. Tanpa kehadiran figur penuntun umat, masyarakat akan terjerumus dalam perilaku sesat dan durhaka. Sebagaimana yang dialami Bani Isra’il. Setelah mereka ditinggal Nabi Musa AS selama empat puluh hari untuk menerima wahyu, banyak yang tersesat dengan menyembah patung anak sapi (Q.S. al-A’raf [7]: 142-148). Lalu Allah SWT menimpakan bencana gempa bumi. Inilah potret kehidupan bermasyarakat. Ketika sebagian anggota masyarakat berbuat durhaka, dampaknya dirasakan seluruh anggota masyarakat (Q.S. al-A’raf [7]: 155).

Catatan penting yang harus diperhatikan penuntun umat adalah manusia merupakan makhluk yang dibekali fitrah saat di dalam rahim. Di alam ruh, setiap manusia sudah mengakui Allah SWT sebagai tuhannya (Q.S. al-A’raf [7]: 172). Akan tetapi, pengaruh negatif lingkungan (orangtua, guru, masyarakat) membuat manusia melupakan fitrah, sehingga terjerumus pada sikap durhaka (Q.S. al-A’raf [7]: 173). 

Dalam menghadapi masyarakat yang durhaka, Allah SWT menyeru agar penuntun umat bersikap bijak, yaitu gemar memaafkan, konsisten melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mengabaikan cercaan orang-orang jahil (dungu), sembari memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan (Q.S. al-A’raf [7]: 199-200).

Di sisi lain, figur penuntun umat dinilai sukses, apabila berhasil mewujudkan masyarakat madani (berperadaban). Salah satu karakteristiknya adalah secara horizontal terjalin persatuan dan kesatuan antar sesama manusia; dan secara vertikal, kualitas keimanan berkembang secara berkelanjutan (Q.S. al-Anfal [8]: 1-2). Rasulullah SAW adalah contoh penuntun umat yang berhasil mewujudkan masyarakat madani di Madinah. Karakteristik di atas, dapat dijumpai pada para shahabat yang terlibat dalam perang Badar. Mereka menjalin persatuan dan kesatuan sekaligus penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT (Q.S. al-Anfal [8]: 7-18).

Wallahu A'lam bi al-Shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel