Tadarus Ramadhan Ke-10

TADARUS JUZ 10

BANYAK PINTU JIHAD DI JALAN ALLAH

(Q.S. al-Anfal [8]: 41 s/d 75 & al-Taubah [9]: 1 s/d 93)


 
Bulan Ramadhan
Banyak Cara Berjihad dalam Islam


Dr. Rosidin, M.Pd.I
www.dialogilmu.com

Tidak dapat dipungkiri, pada zaman Rasulullah SAW, jihad di jalan Allah SWT berupa perang fisik, seperti perang Badar. Agar berhasil meraih kemenangan dalam menghadapi kaum kafir yang berjumlah lebih banyak, Allah SWT menyeru umat muslim untuk membulatkan tekad, berdzikir, menaati Allah SWT dan Rasulullah SAW, bersatu-padu dan bersabar   (Q.S. al-Anfal [8]: 41-46). Sebelum berperang, Allah SWT juga menyeru umat muslim agar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Antara lain meningkatkan skill berperang, seperti memanah; dan melengkapi peralatan perang, seperti kuda perang (Q.S. al-Anfal [8]: 61). 

Apabila pihak musuh cenderung pada perdamaian, maka Allah SWT memerintahkan umat muslim agar condong pada perdamaian pula (Q.S. al-Anfal [8]: 62). Saat itu, perang ditujukan kepada kaum musyrik yang menentang ajaran Islam. Apabila mereka masuk Islam, atau meminta perlindungan, maka umat muslim diseru agar bersikap damai (Q.S. al-Taubah [9]: 1-6). Dengan demikian, sikap dasar umat muslim adalah cinta perdamaian. Artinya, perang merupakan alternatif terakhir jihad di jalan Allah SWT, karena masih banyak pintu-pintu jihad lainnya.

Pintu jihad non-perang antara lain memakmurkan masjid, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Intinya, jihad di jalan Allah SWT dapat dilakukan melalui fisik, seperti perang dan shalat; serta melalui harta, seperti zakat (Q.S. al-Taubah [9]: 18-20).

Termasuk pintu jihad adalah memberantas perilaku orang-orang yang mengambil harta publik secara batil, semisal korupsi; atau menimbun harta untuk kepentingan pribadi dan golongan, semisal kapitalisme (Q.S. al-Taubah [9]: 34-35). Jadi, pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan jihad di jalan Allah SWT. Bahkan jihad model ini lebih relevan dengan konteks zaman now, dibandingkan perang, utamanya di Indonesia yang hingga kini berstatus negara berkembang, belum jua menjadi negara maju.

Memang benar, jihad berupa perang masih dibutuhkan, terutama di wilayah atau negara konflik (dar al-harb), seperti Palestina yang dizhalimi Israel. Dalam konteks inilah, berlaku “ayat pedang”, yaitu Surat al-Taubah [9]: 36 yang menyeru umat muslim: “Perangilah kaum musyrik seluruhnya, seperti halnya mereka memerangi kalian seluruhnya”. Perhatikanlah redaksi ayat yang mengaitkan perintah perang, dengan sebab pemicu peperangan, yaitu sikap musuh yang memerangi umat muslim. Atas dasar itu, ayat ini dapat diberlakukan di negara yang memusuhi umat muslim, seperti Palestina, Myanmar (Rohingya), Thailand (Pattani) dan Filipina (Moro).

Adapun di negara yang aman tentram seperti Indonesia, jihad yang paling tepat adalah jihad non-perang. Misalnya, pemberdayaan ekonomi umat muslim agar status mereka meningkat dari mustahik zakat atau penerima zakat (Q.S. al-Taubah [9]: 60) menjadi muzakki atau wajib zakat.  

Demikian halnya, jihad berupa amar ma’ruf nahi munkar yang berfungsi sebagai kontrol sosial (Q.S. al-Taubah [9]: 71). Apalagi dalam keterangan ayat lain, amar ma’ruf nahi munkar merupakan prasyarat agar umat muslim mencapai status khaira ummah atau umat terbaik (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 110). Implikasinya, jika amar ma’ruf nahi munkar sudah tidak lagi diindahkan, maka jangan berharap umat muslim mampu menggapai status umat terbaik sebagaimana status yang pernah disandang oleh generasi awal muslim. 

Tantangannya adalah kaum munafik yang menjadi “musuh dalam selimut”. Tindak-tanduk mereka senantiasa menolak berjihad di jalan Allah SWT. Mereka enggan terlibat dalam perang dengan berbagai alibi (Q.S. al-Taubah [9]: 42-45). Mereka malas mendirikan shalat dan benci berbagi harta kepada orang lain, padahal jumlah harta mereka menakjubkan  (Q.S. al-Taubah [9]: 54). Lebih parah lagi, kaum munafik itu membalik perintah amar ma’ruf nahi munkar menjadi amar munkar nahi ma’ruf (Q.S. al-Taubah [9]: 67). Contoh sederhana, proposal kegiatan pengajian umum ditolak mentah-mentah; namun proposal kegiatan konser musik yang mengumbar aurat justru dibiayai sepenuhnya. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel