Isra' Mi'raj Perspektif al-Qur'an

Isra’ Mi’raj Perspektif al-Qur’an: Tafsir Tarbawi Q.S. al-Isra’ [17]: 1

Mi'raj
Isra' Mi'raj: Dari Bumi cerminan Masjid ke Langit cerminan Surga

Dr. Rosidin, M.Pd.I
http://www.dialogilmu.com

Nilai-nilai Pendidikan:


Pertama, Maha Suci (Subhana). Kata subhana berasal dari akar kata sabaha yang artinya “menjauh”. Renang disebut sibahah, karena bergerak “menjauh” dari posisi awal. Ketika dikaitkan dengan Allah SWT, kata subhana bermakna “Maha Suci”, yaitu jauh dari hal apapun yang tidak layak bagi-Nya, karena Allah SWT Maha Sempurna. Setiap kali melihat atau mendengar sesuatu yang menakjubkan, sebagai cerminan ke-Maha Sempurna-an Allah SWT, disunahkan mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah). Jadi, Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa menakjubkan yang seharusnya disambut ucapan Subhanallah.
 
Kedua, Yang meng-Isra’-kan (alladzi asra). Kata alladzi (yang) adalah isim maushul (kata penghubung), sehingga Isra’ Mi’raj berhubungan erat dengan ke-Maha Suci-an Allah SWT. Jadi, Isra’ Mi’raj merupakan mu’jizat yang terjadi semata-mata karena kekuasaan Allah SWT dan tidak dapat dinalar manusia. Dus, sifatnya suprarasional (melampaui akal), bukan rasional (masuk akal), apalagi irasional (tidak masuk akal).
 
Ketiga, Hamba-Nya (bi-‘abdihi). Tingkatan tertinggi manusia dalam al-Qur’an adalah ‘abdullah (hamba Allah), karena tujuan utama manusia adalah beribadah (Q.S. al-Dzariyat [51]: 56). Rasulullah SAW merupakan figur yang diberi gelar ‘abdihi (hamba Allah). Gelar ini sangatlah wajar, mengingat beliau sangat aktif beribadah, sampai-sampai kaki bengkak dan melepuh (H.R. al-Bukhari).
 
Keempat, Malam hari (laylan). Aslinya, Isra’ (asra) sudah bermakna “perjalanan malam hari”, sehingga penambahan kata “malam” (laylan) mengisyaratkan makna “sepenggal malam”. Artinya, Isra’ Mi’raj tidak berlangsung sepanjang malam, melainkan hanya sepenggal malam. Itulah mengapa kaum kafir tidak percaya Isra’ Mi’raj, karena “membatasi kekuasaan Allah SWT” dengan nalar manusia. Ilustrasinya, seandainya ada lalat memberitahu “rekan-rekannya” bahwa ia melakukan perjalanan Surabaya ke Arab Saudi dalam waktu 8 (delapan) jam, pasti rekan-rekannya tidak akan percaya, mengingat kapasitasnya sebagai lalat. Padahal, lalat tersebut bisa melakukannya, karena kebetulan masuk di pesawat jamaah haji. Demikian halnya Isra’ Mi’raj, yaitu Rasulullah SAW “ikut pesawat (buraq) milik Allah SWT”.
 
Kelima, Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (min al-masjid al-haram ila al-masjid al-aqsha). Hidup ideal seorang muslim adalah dari “Masjid” ke “Masjid”. Jika mengacu Hadis bahwa Allah SWT menjadikan seluruh bumi sebagai “Masjid”; maka seluruh permukaan bumi dapat dijadikan “tempat ibadah”. Termasuk masjid, mushalla, pesantren, sekolah, kampus, kantor, pasar, mall, rumah, jalan, sawah, ladang, sungai, laut.
 
Keenam, Yang Kami berkahi di sekitarnya (alladzi barakna haulahu). Jika wilayah sekitarnya saja diberkahi, lebih-lebih Masjidil Aqsha, pasti keberkahannya lebih melimpah. Salah satu bukti keberkahan Masjidil Aqsha dan sekitarnya adalah banyak nabi dan rasul yang hidup di wilayah Palestina. Bahkan saat ini Palestina dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki jumlah hafizh al-Qur’an terbanyak (60.000-70.000), mengalahkan Indonesia (40.000). Konflik dengan Israel, memicu begitu banyak pejuang yang gugur sebagai syuhada’ dalam usaha bela negara dan agama; bahkan memicu umat muslim dari berbagai negara untuk melakukan aksi-aksi kedermawanan.
 
Ketujuh, Untuk memperlihatkannya tanda-tanda kekuasaan Kami (linuriyahu min ayatina). Antara lain melihat surga dan neraka secara langsung, beserta berbagai tamtsil (perumpamaan) pahala bagi amal shalih dan siksa bagi kemaksiatan. Sebelum itu, Rasulullah SAW bertemu para nabi dan rasul pada setiap lapisan langit: (a) Nabi Adam AS; (b) Nabi ‘Isa AS dan Nabi Yahya AS; (c) Nabi Yusuf AS; (d) Nabi Idris AS; (e) Nabi Harun AS; (f) Nabi Ibrahim AS; (g) Nabi Musa AS.
 
Kedelapan, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (innahu huwa al-sami’ al-bashir). Dalam rangka memahami agama Islam, sarana utamanya pendengaran. Banyak ajaran Islam yang meniscayakan alat pendengaran. Misalnya, belajar membaca al-Qur’an sesuai Tajwid dengan mendengarkan bacaan guru secara langsung; bukan sekedar menggunakan penglihatan dengan membaca. Jadi, penglihatan difungsikan sebagai alat pengembangan dan pendukung pendengaran. Wallahu A’lam bi al-Shawab


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel