Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Metode Dakwah dan Tarbiyah Islam

METODE DAKWAH DAN TARBIYAH ISLAM


Mengapa Qarun menjadi Simbol Kekayaan?
(foto: bukubukularis.com)

Dr. Rosidin, M.Pd.I
www.dialogilmu.com

Dalam rangka mewujudkan khaira ummah (ummat terbaik), setiap ummat muslim perlu melibatkan diri dalam amar ma’ruf nahi munkar, baik melalui jalur dakwah maupun tarbiyah (pendidikan). Paling tidak, ada empat metode dakwah dan tarbiyah yang pernah diterapkan oleh al-Qur’an dan Rasulullah SAW.

Pertama, tadabbur alam semesta. Saat kita melihat smartphone yang canggih, pasti kita yakin bahwa pembuatnya bukan orang bodoh, melainkan orang pandai. Demikian halnya, saat kita melihat alam semesta yang menakjubkan, pasti kita yakin bahwa Allah SWT adalah Dzat Pencipta yang serba Maha. Oleh sebab itu, al-Qur’an sering memerintahkan umat manusia agar melakukan tadabbur alam, agar lebih mengenal Allah SWT.

Misalnya, Allah SWT menciptakan bumi sebagai tempat yang nyaman (Q.S. al-Naba’ [78]: 6). Salah satu sebabnya, posisi bumi tidak terlalu jauh atau terlalu dekat dengan matahari. Jika lebih dekat sedikit saja, bumi akan terbakar. Jika lebih jauh sedikit saja, bumi akan membeku. Allah SWT juga menciptakan oksigen melalui fotosintesis tumbuhan. Sedangkan fotosintesis membutuhkan bantuan sinar matahari. Oleh sebab itu, al-Qur’an menyatakan bahwa baru manusia dapat bernafas dengan leluasa, ketika matahari sudah terbit di pagi hari (Q.S. al-Takwir [81]: 18). Itulah kiranya, al-Qur’an menyatakan bahwa siang lebih cocok digunakan sebagai waktu bekerja mencari nafkah, karena asupan oksigen melimpah (Q.S. al-Naba’ [78]: 11).    

Kedua, muhasabah diri sendiri. Dalam salah satu kalam hikmah yang populer, man ‘arafa nafsahu, ‘arafa Rabbahu; “barangsiapa mengenali dirinya, maka dia mengenali Tuhannya”. Kalam hikmah ini bermakna ganda. Di satu sisi, apa yang menjadi kekurangan manusia, berarti Allah SWT berkebalikan dengan itu. Misalnya, manusia tidak mengetahui masa depan, termasuk apa yang akan terjadi esok hari. Sebaliknya, Allah SWT Maha Mengetahui seluk-beluk masa depan, bahkan hari kiamat sekalipun (Q.S. Luqman [31]: 34).

Di sisi lain, apa yang menjadi kelebihan manusia, berarti Allah SWT memiliki kelebihan tersebut dalam bentuknya yang sempurna. Misalnya, ‘Umar ibn al-Khaththab RA meriwayatkan bahwa sekelompok tawanan datang kepada Rasulullah SAW. Lalu ada seorang ibu yang mencari-cari bayinya dalam tawanan tersebut. Setelah bertemu, si ibu memeluk dan menyusui bayinya. Rasulullah SAW bersabda: “Apakah menurut kalian, ibu itu rela melemparkan anaknya ke dalam neraka?” Kami menjawab, “Tidak, demi Allah”. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, Allah itu lebih menyayangi para hamba-Nya, dibandingkan ibu itu kepada anaknya” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, menceritakan kisah teladan. Sayang sekali, bangsa Indonesia kerap salah kaprah dalam memilih tokoh kisah teladan. Misalnya, kisah binatang yang diidolai adalah “Si Kancil Mencuri Timun”; tidak heran, banyak koruptor yang menyalah-gunakan kecerdasannya untuk mencuri harta kekayaan yang bukan hak miliknya. Padahal, Islam mengajarkan agar umat muslim meniru lebah, yaitu binatang yang hanya mengonsumsi makanan yang bagus-bagus (nektar bunga) dan mengeluarkan yang bagus-bagus pula (madu). Dongeng “Malin Kundang” membuat hubungan anak dan orangtua terasa mencekam, karena anak takut mendapatkan kutukan orangtua. Padahal, Islam lebih banyak mengajarkan umat muslim tentang relasi anak dan orangtua yang dilandasi kasih-sayang, seperti kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS atau Luqman dan anaknya; bahkan ketika anak dan orangtua memiliki perbedaan pandangan akidah. Seperti kisah Nabi Nuh AS dan Kan’an atau Nabi Ibrahim AS dan Azar.

Dalam konteks kekayaan pun, bangsa Indonesia lebih mengidolai Qarun, sehingga menyebut harta yang melimpah sebagai “harta karun”. Bandingkan dengan bangsa Barat yang lebih mengidolai Nabi Sulaiman AS, sehingga menyebut harta yang melimpah sebagai “Solomon Treasure” (harta Sulaiman). Dampak salah idola antara lain, orang kaya di Indonesia lebih senang memamerkan kekayaannya di depan publik, seperti pamer saldo ATM di kalangan artis; sehingga menimbulkan iri hati bagi orang yang menggemari harta. Mentalitas seperti itu, persis dengan mentalitas Qarun yang digambarkan dalam al-Qur’an “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Seandainya saja kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun" (Q.S. al-Qashash [28]: 79). Padahal, al-Qur’an jelas-jelas menjadikan Nabi Sulaiman AS sebagai tokoh teladan bagi orang kaya. Suatu ketika, Nabi Sulaiman AS sibuk merawat kuda-kuda pilihan, hingga melalaikan beliau dari ibadah shalat. Akhirnya, Nabi Sulaiman AS segera menyembelih kuda-kuda tersebut dan menshadaqahkan dagingnya (Q.S. Shad [38]: 32-33). Kedua tokoh di atas bertolak belakang. Qarun adalah tokoh yang kekayaan menyebabkannya meninggalkan ibadah; sedangkan Nabi Sulaiman AS adalah tokoh yang kekayaannya rela dikorbankan, jika sampai melalaikan ibadah.  

Keempat, janji dan ancaman. Adakalanya, al-Qur’an dan Rasulullah SAW membuat janji yang menumbuhkan harapan. Misalnya, orang yang berlumur dosa saja, masih dipanggil oleh Allah SWT dengan sebutan “wahai para hamba-Ku” atau ya ‘ibadi; serta dilarang berputus asa dari rahmat Allah Maha Pengampun dan Penyayang (Q.S. al-Zumar [39]: 53). Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar dari neraka, orang yang mengucapkan Laa Ilaaha illa Allah (tiada tuhan yang berhak disembah, selain Allah), dan di hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah (atom)” (H.R. al-Bukhari). Adakalanya, al-Qur’an dan Rasulullah SAW membuat ancaman yang menumbuhkan ketakutan. Misalnya, orang yang membunuh sesama muslim, seperti kasus bom bunuh diri, diancam masuk neraka Jahannam selama-lamanya serta mendapatkan murka, laknat dan siksa dari Allah SWT (Q.S. al-Nisa’ [4]: 93).

Di samping janji dan ancaman yang berlaku pada kehidupan ukhrawi, al-Qur’an dan Rasulullah SAW membuat janji dan ancaman yang berlaku pada kehidupan duniawi. Misalnya, pada zaman Nabi Yusuf AS, ada pegawai istana yang melakukan kesalahan berat, sehingga dipenjara dan dihukum mati (Q.S. Yusuf [12]: 41). Saat ini pun, banyak pelaku kejahatan yang mendapat hukuman saat di dunia. Seperti ditangkap KPK, dipenjara, dipecat secara tidak hormat, hingga citranya tercoreng di mata masyarakat dalam sekejap mata. Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja kefakiran itu menjadi kekafiran” (H.R. al-Baihaqi). Saat ini pun, banyak orang muslim yang terpaksa meninggalkan shalat lima waktu, karena harus bekerja kepada majikan non-muslim yang tidak simpatik pada Islam. Demikian halnya, kefakiran membuat umat muslim tidak dapat berbuat banyak, ketika orangtua atau sanak familinya membutuhkan biaya pendidikan atau kesehatan.

Tulisan ini menggemakan kembali semangat umat muslim agar aktif melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan syariat Islam di muka bumi, terutama melalui empat metode dakwah dan tarbiyah yang seharusnya dilakukan secara seimbang (proporsional); tidak hanya memakai satu metode semata, semisal menjanjikan orang yang taat dengan kenikmatan surga dan mengancam orang yang maksiat dengan kengerian neraka. Lebih dari itu, semakin banyak umat muslim yang terlibat dalam dakwah dan tarbiyah ajaran Islam, semakin marak dan lestari ajaran Islam di muka bumi ini.