Tafsir Al-Qur'an Tematik: Taufiq, Hidayah dan Inayah
Dr. Rosidin, M.Pd.I
http://www.dialogilmu.com
Kerap kali kita mendengar atau membaca
untaian kata yang disajikan secara bersamaan, yaitu Taufiq, Hidayah
dan Inayah; baik secara lisan, seperti ketika berpidato, maupun secara
tulisan, seperti pada surat undangan. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk mengulas
kandungan makna Taufiq, Hidayah dan Inayah melalui kajian
tafsir al-Qur’an tematik (maudhu’i).
Pertama,
Taufiq. Kata ini berasal dari kata wafaqa
yang berarti kesesuaian antara dua hal. Dari sini berkembang maknanya menjadi:
kesesuaian antara perbuatan manusia dengan takdir Allah SWT. Dengan demikian,
secara sederhana taufiq bermakna: ‘kesesuaian antara keinginan manusia
dengan kehendak Allah SWT’.
Contohnya: ada orang memiliki hajat
menikahkan putra-putrinya; jika hajat tersebut terlaksana, berarti orang
tersebut diberi taufiq oleh Allah SWT.
Al-Qur’an sendiri menyebut kata taufiq
sebanyak tiga kali. Salah satunya adalah ketika dua pasangan suami istri sedang
berkonflik yang berpotensi berujung perceraian, namun keduanya memiliki
keinginan atau kehendak untuk berdamai melalui seorang mediator, maka Allah SWT
akan memberikan taufiq kepada pasangan suami istri tersebut.
وَإِنْ
خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ
أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ
كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا (35) النساء
Dan
jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang
hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan. Jika
kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq
kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
(Q.S. al-Nisa’ [4]: 35)
Contoh ayat lainnya adalah usaha Nabi
Syu’aib AS yang menginginkan kebaikan umat beliau melalui ikhtiar semaksimal
mungkin.
قَالُوا يَا
شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ
نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
(87) قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي
وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا
أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا
تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (88) هود
Mereka
berkata: "Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami
meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami
memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah
orang yang sangat penyantun lagi berakal." Syuaib berkata: "Hai
kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku
dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi
perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan)
apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama
aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan
(pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah
aku kembali (Q.S. Hud [11]: 87-88).
Apabila dua ayat tersebut dicermati, niscaya
akan diperoleh simpulan bahwa kata ‘taufiq’ selalu diawali dengan kata ‘yuridu’
atau kehendak dan ‘ishlah’ atau perbaikan. Temuan ini dapat dimaknai
bahwa tips untuk memperoleh taufiq adalah kita harus memiliki kehendak
atau keinginan memperbaiki problem yang sedang dihadapi.
Contoh praktisnya, apabila kita ingin
berhasil dalam suatu pekerjaan, maka kita harus memiliki tekad (kehendak) yang
kuat dan usaha yang terbaik ketika melaksanakan pekerjaan tersebut, sehingga
mengundang datangnya taufiq dari Allah SWT.
Kedua,
Hidayah. Kata hidayah seakar dengan kata hadiah.
Arti aslinya, “pemberian dengan lemah lembut”. Adalah menarik, jika kita
melihat catatan sejarah bahwa mayoritas –jika bukan ‘seluruhnya’– orang yang
mendapatkan hidayah itu melalui cara-cara yang lemah lembut atau santun.
Jarang sekali – bahkan mungkin tidak ada– orang yang mendapat hidayah
melalui cara-cara kekerasan, seperti tindak terorisme.
Dilihat dari jenisnya, hidayah
terbagi menjadi dua, yaitu Hidayah Informasi dan Hidayah
Kemampuan.
Hidayah informasi
itu semisal kita bertanya kepada seseorang, “Di mana rumah Pak Ahmad?”, lalu
orang itu memberi informasi rute jalan ke rumah Pak Ahmad. Jika hanya berbekal hidayah
informasi, belum menjamin seseorang sampai pada tujuan yang dimaksud. Oleh
sebab itu, dibutuhkan hidayah kemampuan.
Hidayah kemampuan
itu semisal kita bertanya kepada seseorang, “Di mana rumah Pak Ahmad”, lalu
orang itu menjawab: “Kebetulan saya adalah putranya, kalau begitu Anda saya
antarkan saja”. Jadi, hidayah kemampuan dapat menjamin sampainya
seseorang pada tujuan yang dimaksud.
Faktanya, al-Qur’an menggunakan redaksi yang
berbeda untuk kedua jenis hidayah di atas. Ketika menyebut hidayah
informasi, al-Qur’an memakai redaksi hidayah plus kata ila
(kepada), Misalnya: Nabi Muhammad SAW hanya memiliki kemampuan memberi hidayah
informasi:
وَكَذَلِكَ
أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ
وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ
عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (52) الشورى
Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami.
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang
Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus (Q.S. al-Syura [42]: 52)
Pada ayat lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad
SAW tidak memiliki kemampuan untuk memberi hidayah kemampuan:
إِنَّكَ لَا
تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ (56) القصص
Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk (kepada) orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah
lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk
(Q.S. al-Qashash [28]: 56).
Dari sini dapat dipahami bahwa hidayah kemampuan
hanya menjadi hak istimewa (prerogatif) Allah SWT. Oleh sebab itu, umat muslim
dididik agar berdoa memohon hidayah kemampuan kepada Allah SWT, sesuai
ayat berikut:
اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) الفاتحة
Tunjukilah
kami jalan yang lurus (Q.S. al-Fatihah [1]: 6).
Jika mengacu pada keterangan di atas, seolah-olah
ayat tersebut bermakna: “Ya Allah, mohon antarkanlah kami ke jalan yang
lurus”.
Ketiga, Inayah.
Kata ‘inayah ini semakna dengan kata ‘aun yang berarti ‘pertolongan
dan bantuan’. Sebagai makhluk yang selalu menghadapi problem kehidupan, semua manusia
membutuhkan ‘inayah Allah SWT.
Akan tetapi, kerap kali kita merasa ‘tidak
butuh’ kepada ‘inayah Allah SWT, karena merasa bahwa problem yang dihadapi,
dapat diselesaikan sendiri. Demikian halnya, apabila problem tersebut dapat diselesaikan
melalui bantuan orang lain. Dalam kondisi seperti ini, kita tidak terlalu
merasakan ‘kebutuhan’ pada ‘inayah Allah SWT.
Kita baru benar-benar merasa membutuhkan ‘inayah
Allah SWT, apabila problem yang dihadapi adalah problem-problem canggih atau
problem-problem kelas atas yang tidak dapat kita selesaikan sendiri maupun
dengan bantuan orang lain.
Contoh konkretnya adalah problem yang
dihadapi oleh seorang presiden, gubernur dan kepala daerah di bawahnya;
walaupun dia seorang ahli dan didukung oleh banyak tim ahli, namun kualitas dan
kuantitas permasalahan yang dihadapi begitu banyak dan kompleks, sehingga dia akan
benar-benar merasakan kebutuhan kepada ‘inayah Allah SWT.
Contoh yang lebih sederhana, ketika siswa
mendapatkan PR di sekolah, maka dia tidak terlalu merasa membutuhkan ‘inayah
dari Allah SWT, karena dia merasa bahwa PR tersebut dapat dia selesaikan
sendiri maupun dengan bantuan orang lain. Lain halnya ketika dia harus
mengerjakan UN (Ujian Nasional), di mana dia merasa tidak mampu
menyelesaikannya sendiri maupun meminta bantuan orang lain, maka saat itulah
perasaan butuh terhadap ‘inayah Allah SWT muncul pada diri setiap siswa
bahkan guru-guru sekalipun.
Al-Qur’an menyinggung bahasan tentang ‘inayah
sebanyak 10 kali. Contoh problem yang membutuhkan ‘inayah dari Allah SWT
adalah problem yang dihadapi Nabi Ya’qub AS terkait sikap putra-puternya yang
menyingkirkan Nabi Yusuf AS, sang putra tercinta.
وَجَاءُوا
عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (18) يوسف
Mereka
datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub
berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang
buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah
yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan” (Q.S.
Yusuf [12]: 18).
Demikian halnya dengan doa yang diajarkan
oleh Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ
أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ (رواه ابو داود)
Ya Allah, mohon Engkau beri pertolongan kepadaku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan
beribadah kepada-Mu dengan Ihsan (H.R. Abu Dawud).
Mengingat dzikir, syukur
dan beribadah yang baik tidak cukup hanya berbekal kemampuan diri sendiri
maupun mengharapkan bantuan orang lain, maka satu-satunya jalan
adalah mendapat ‘inayah dari Allah SWT.
Lalu bagaimana cara kita meraih ‘inayah
dari Allah SWT?. Jawabannya adalah melalui sikap sabar dan ibadah, khususnya
shalat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:
وَاسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45)
البقرة
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu' (Q.S. al-Baqarah [2]: 45).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
(153) البقرة
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar
(Q.S. al-Baqarah [2]: 153).
Kesimpulan yang dapat dipetik dari tulisan
ini adalah:
Pertama,
apabila kita berharap agar keinginan-keinginan kita selaras dengan kehendak
Allah SWT; maka kita harus mengusahakan keinginan-keinginan tersebut dengan
sebaik-baiknya, secara total, bukan setengah-setengah. Jika ternyata masih
gagal juga, patut kiranya kita mengingat sebuah ayat:
أَمْ
لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّى (24)
النجم
“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?” (Q.S. al-Najm [53]: 24).
Kedua,
kita seharusnya berdoa memohon hidayah informasi, lebih-lebih hidayah
kemampuan kepada Allah SWT, agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Namun
alangkah baiknya jika diiringi dengan usaha maksimal untuk mendapatkan kedua
jenis hidayah tersebut, melalui keteguhan dalam menjalankan
ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang dijelaskan ayat,
وَمَنْ
يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (101) ال عمران
“Barangsiapa berpegangteguh kepada Allah, maka sungguh dia
diberi hidayah ke jalan yang lurus” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 101).
Ketiga,
seyogianya kita meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara mengambil peran
atau tanggungjawab yang lebih tinggi, lebih luas atau lebih banyak daripada
kemampuan kita yang sebenarnya. Semakin tinggi peran atau tanggungjawab yang dipikul,
semakin besar tingkat kebutuhan kita kepada ‘inayah Allah SWT. Pada saat
yang sama, kita perlu mengundang ‘inayah Allah SWT tersebut dengan rajin
beribadah, khususnya shalat serta bersabar. Itulah kiranya mengapa al-Qur’an menyeru
umat muslim agar beribadah dan memohon ‘inayah sekaligus,
إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) الفاتحة)
“Hanya
kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”
(Q.S. al-Fatihah [1]: 5).
Wallahu A’lam bi al-Shawab.