Mencerahkan Jahiliyyah Modern

MENCERAHKAN JAHILIYAH MODERN

Pernikahan sebagai Solusi Jahiliyyah Modern Valentine
(foto: republika.co.id)


Salah satu fungsi utama ajaran Islam yang dijelaskan al-Qur’an adalah mengantarkan manusia dari kegelapan menuju pencerahan (Q.S. Ibrahim [14]: 1). Manusia modern diliputi aneka kegelapan hidup yang membutuhkan panduan Islami berupa pencerahan Ilahi yang dapat menyelamatkan mereka dari kubangan Jahiliyyah Modern berikut ini:

Pertama, Tidak mengetahui syariat agama. Masih sering dijumpai kasus orang muslim yang semangat mendirikan shalat berjamaah di masjid maupun mushalla, akan tetapi belum memenuhi syarat sah shalat. Misalnya, laki-laki yang melaksanakan shalat dengan memakai celana dan kaos saja. Ketika rukuk atau sujud, bagian pantatnya terlihat; padahal bagian tersebut merupakan aurat yang wajib ditutup. Walhasil, shalatnya dinilai tidak sah menurut standar Fikih yang mengharuskan laki-laki menutup anggota badan antara pusar dan lutut. Lebih parah lagi, tidak jarang laki-laki yang berpenampilan seperti itu ditunjuk sebagai imam dadakan di mushalla mall, stasiun, bandara atau tempat publik lainnya.

Jahiliyyah Modern yang mendera masyarakat awam dalam pengetahuan syariat agama, mengharuskan pembenahan bidang dakwah dan pendidikan. Misalnya, mubaligh tidak melulu menyampaikan tema dakwah tentang akhlak, melainkan juga tentang Fikih praktis. Di sisi lain, pendidik mengadakan kajian maupun pembelajaran Fikih praktis secara rutin; mengingat minimnya kajian dan pembelajaran Fikih praktis bagi masyarakat umum, di luar Pesantren dan TPQ.  Semua itu dilaksanakan agar amal perbuatan yang dilakukan masyarakat awam dinilai sah, baik terkait ibadah, muamalah, munakahat, dan sebagainya.

Kedua, Membahayakan keselamatan nyawa. Ada guyonan mubaligh, bahwa saat ini malaikat maut lebih menyukai “daun muda”. Artinya, lebih banyak kaum remaja dan kawula muda yang meninggal dunia, dibandingkan kaum dewasa dan lansia. Bagaimana tidak, berdasarkan data BNN, angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar pada tahun 2018 di 13 ibukota provinsi Indonesia, mencapai 2.29 juta dan mayoritas berusia 15-35 tahun. Ini baru satu kategori. Belum lagi dengan kategori lain, seperti: tawuran pelajar, aksi perundungan (bully), swafoto nekat, balapan liar, mengemudi ugal-ugalan, bunuh diri akibat putus cinta hingga bom bunuh diri akibat terpapar paham teroris berlabel jihad.

Jahiliyah Modern yang membahayakan keselamatan nyawa harus ditangani secara serius oleh pihak yang berwenang dan berkepentingan. Misalnya, pihak yang berwenang seperti kepolisian, terutama BNN, dituntut aktif memberantas narkoba, terutama di kalangan remaja dan kawula muda. Di samping itu, penyalahgunaan narkoba dapat diminimalisasi melalui peran keluarga, terutama orangtua; serta lembaga pendidikan, terutama guru; agar aktif membina dan mengawasi anak-anak. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa kondisi keluarga yang buruk (broken home) membuat risiko anak dan remaja menjadi nakal mencapai 60%; sedangkan jika hubungan anak dengan orangtua berjalan baik, maka potensi kenakalan anak dan remaja hanya 10%. Intinya, perlu kerjasama berbagai pihak untuk menangani Jahiliyyah Modern kategori ini.  

Ketiga, Kemalasan berpikir. Kemalasan berpikir ditandai oleh budaya menyontek dan copy-paste yang merebak di kalangan pelajar, baik di sekolah maupun perguruan tinggi. Kemendikbud mencatat 126 kecurangan selama Ujian Nasional 2019. Di tingkat lebih tinggi, masih ditemui kasus plagiarisme yang dilakukan dosen, guru besar, hingga pimpinan perguruan tinggi. Tampaknya, fenomena contek-menyontek, copy-paste dan plagiarisme disebabkan oleh pandangan masyarakat yang mudah terkesima terhadap tampilan luar, seperti nilai rapor sempurna, IPK cumlaude atau gelar akademik berjejer.

Jahiliyyah Modern berupa kemalasan berpikir dapat diberantas melalui pembelajaran yang lebih mengedepankan proses dibandingkan hasil. Sejalan dengan itu, Ibn ‘Abbas RA pernah ditanya, “Dengan apa engkau memperoleh ilmu?”. Beliau menjawab: “Dengan lisan yang selalu bertanya; hati yang berakal dan berkorban dengan harta”. Tips belajar ala Ibn ‘Abbas AS ini dapat diterapkan untuk memberantas Jahiliyyah Modern berupa kemalasan berpikir. Misalnya, membiasakan pelajar agar gemar bertanya dan memandang bahwa banyak bertanya merupakan tanda kesungguhan belajar, bukan tanda kebodohan. Membiasakan pelajar agar suka menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara mandiri dan jujur, serta siap dan rela menerima berapapun nilai rapor maupun IPK; karena nilai rapor dan IPK tidak menjadi jaminan mutlak kualitas seseorang. Pelajar juga siap berkorban harta demi memperbaiki kualitas diri, baik melalui pembelian buku pelajaran maupun pembiayaan kursus tambahan. Melalui tiga aksi tersebut, para pelajar dapat lebih percaya diri terhadap kualitas pribadinya, sehingga tidak tergoda untuk menyontek, copy-paste dan plagiat.  

Keempat, Pergaulan bebas tanpa kontrol. Setiap kali momen Valentine yang diperingati tanggal 14 Februari, isu pergaulan bebas senantiasa diperbincangkan di tengah masyarakat, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Meskipun banyak umat muslim yang pernah membaca dan memahami larangan mendekati perzinahan (Q.S. al-Isra’ [17]: 32); masih banyak umat muslim yang melakukan aksi-aksi yang mendekati zina, seperti berpacaran; bahkan berani melakukan perzinahan; hingga taraf begitu tega membunuh janin atau anak melalui aborsi, ketika mengalami kehamilan di luar nikah. Aborsi itu lebih kejam dibandingkan penguburan anak wanita dalam keadaan hidup-hidup yang dilakukan oleh masyarakat Jahiliyyah kuno (Q.S. al-Takwir [81]: 8); karena aborsi tidak lagi memedulikan jenis kelamin. Janin laki-laki maupun wanita, sama-sama menjadi korban aborsi.

Jahiliyyah Modern berupa pergaulan bebas tanpa kontrol, harus dimulai dari upaya pembudayaan menutup aurat bagi laki-laki dan wanita. Diperkuat dengan pendidikan mengenai pentingnya menghindari “zina mata”, dengan cara mengendalikan pandangan terhadap lawan jenis (Q.S. al-Nur [24]: 30-31); karena pada umumnya pacaran bermula “dari mata turun ke hati”. Ketika laki-laki dan wanita berpacaran, besar kemungkinan keduanya terjerumus dalam godaan setan untuk berzina. Bahkan sekelas Nabi Yusuf AS pun sempat tergoda dengan Zalikha, seandainya saja tidak dihindarkan oleh Allah SWT (Q.S. Yusuf [12]: 24). Al-Qur’an pun menjelaskan bahwa godaan wanita itu sangatlah dahsyat bagi orang yang tidak memiliki kontrol iman yang mantap (Q.S. Yusuf [12]: 28). Dalam hal ini, Rasulullah SAW hanya memberikan dua alternatif dalam konteks hubungan antar lawan jenis, yaitu: menikah atau berpuasa (H.R. Bukhari-Muslim). Dengan menikah, nafsu biologis manusia dapat disalurkan secara halal. Dengan berpuasa, nafsu biologis dapat dikendalikan untuk sementara. Apalagi jika menyadari bahwa salah satu perkara yang dapat membatalkan pahala puasa adalah memandang lawan jenis dengan syahwat.    

Simpulan yang dapat dipetik dari ulasan di atas adalah pentingnya pelibatan syariat Islam yang bersifat ilmiah (teoretis) maupun amaliah (praktis), untuk meminimalisasi, meredam bahkan memberantas aneka Jahiliyyah Modern yang menjangkiti umat muslim di Indonesia. Disertai penegakan prinsip menjaga diri sendiri dari pengaruh Jahiliyyah Modern dan berperan aktif melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan berbagai pihak yang berwenang dan berkepentingan, agar keluarga, kerabat, sahabat, tetangga dan masyarakat sama-sama terhindar dari pengaruh Jahiliyyah Modern yang semakin mengkhawatirkan. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel