TAFSIR IJMALI JUZ 1: Persatuan dalam Keberagaman
1. Keragaman Kualitas Iman (Surat al-Baqarah [2]: 1-20)
Kode unik Al-Qur'an adalah memulai Surat dengan huruf Hijaiyyah yang
terputus-putus (al-muqatha'ah). Pola khasnya, semua Surat yang dimulai Alif Lam
Mim, membahas hidup manusia pada fase awal, tengah dan akhir.
Sejak awal, Allah SWT sudah menegaskan bahwa Al-Qur'an itu terjamin keasliannya dan berfungsi sebagai pedoman hidup. Namun, dalam menyikapi ajaran Al-Qur'an, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan.
Pertama, kaum muttaqin. Yaitu mereka yang hatinya dipenuhi cahaya iman,
sehingga menerima ajaran Islam secara lahir-batin. Indikatornya antara lain
beriman kepada Allah SWT, aktif shalat dan berjiwa dermawan.
Kedua, kaum kafir. Yaitu mereka yang hatinya tertutup dari cahaya iman, sehingga menolak ajaran Islam secara lahir-batin. Indikatornya antara lain hati dan panca indranya tertutup total dari hidayah, hingga kelak masuk neraka.
Ketiga, kaum munafik. Yaitu mereka yang secara lahir mengaku menerima
ajaran Islam, namun secara batin menolak ajaran Islam. Indikatornya adalah
"menjual agama" secara oportunis dan gemar berbuat kerusakan.
2. Keragaman Tugas Manusia (Surat al-Baqarah [2]: 21-39)
Tugas utama manusia ada dua. Pertama, sebagai hamba yang menyembah Allah SWT berdasarkan prinsip tauhid dan anti syirik. Allah SWT menciptakan manusia sekaligus memberi berbagai fasilitas hidup di bumi.
Kedua, sebagai khalifah yang melestarikan dan mengembangkan bumi dengan prinsip amanah. Manusia yang merusak alam adalah pengkhianat yang hina dan berbahaya seperti nyamuk penyebab penyakit yang mematikan.
Agar taat ibadah, manusia perlu meneladani malaikat yang menaati perintah Allah SWT agar bersujud menghormati Nabi Adam AS. Jangan meniru Iblis yang menolak perintah Allah SWT disertai sikap sombong dan hasud.
Menyangkut khalifah, malaikat mengingatkan potensi negatif manusia. Yaitu gemar berbuat kerusakan alam dan sosial. Seperti merusak hutan (deforestasi) yang berakibat bencana alam dan menelan begitu banyak korban jiwa.
Berbekal iman, ilmu, amal dan akhlak terpuji, manusia dapat menjalankan tugas ibadah dan khalifah dengan baik. Misalnya, ekoteologi Islam. Yaitu memelihara keseimbangan ekologis berdasarkan nilai-nilai Islami.
![]() |
| Tanah Suci sebagai Kiblat Ibadah & Tanah Air sebagai "Kiblat" Peran Khalifah |
3. Keragaman Pengalaman Hidup (Surat al-Baqarah [2]: 40-93)
Pengalaman hidup manusia itu beragam, seperti tercermin dalam kisah historis Nabi Musa AS dan Bani Israil. Hidup merupakan arena "pertempuran" iman, ilmu, amal dan akhlak antara kubu positif melawan negatif.
Pertama, Keimanan vs Kekafiran. Nabi Musa AS mengajak Bani Israil untuk beriman. Beliau beribadah 40 malam di Gunung Sinai untuk menerima Taurat sebagai bekal dakwah. Tapi Bani Israil justru menyembah patung sapi.
Kedua, Kepandaian vs Kebodohan. Bukti Nabi Musa AS pandai adalah membagi 12 mata air untuk kemudahan akses bagi 12 suku Bani Israil. Bukti Bani Israil bodoh adalah terlalu banyak bertanya tentang deskripsi sapi.
Ketiga, Amal Baik vs Amal Buruk. Nabi Musa AS mendakwahkan isi Taurat dengan jujur dan amanah. Namun Bani Israil justru mengubah isi Taurat demi harta, lalu mengklaim bahwa itu dari Allah SWT. Mereka dusta dan khianat.
Keempat, Akhlak Terpuji vs Akhlak Tercela. Nabi Musa AS berdakwah
dengan akhlak terpuji. Tapi Bani Israil merespons dakwah dengan akhlak tercela
yang diabadikan dalam Al-Qur'an, "kami dengar, tapi kami durhakai".
4. Keragaman Pendidikan Manusia (Surat al-Baqarah [2]: 94-141)
Kaum Yahudi dari Bani Israil terobsesi dengan kehidupan dunia. Mereka berharap diberi usia 1000 tahun. Padahal, panjangnya usia tidak bisa menyelamatkan dari siksa akhirat, jika amalnya ketika di dunia melanggar syariat.
Contoh amal yang melanggar syariat adalah menyalahgunakan sihir untuk
memisahkan pasangan suami-istri, menghalangi orang untuk beribadah di masjid,
serta mengkreasi budaya negatif yang dilandasi nafsu syahwat.
Agar umat muslim terbebas dari pelanggaran syariat, maka dibutuhkan doa yang tulus dan pendidikan yang terbaik. Seperti doa maupun pendidikan yang diterapkan Nabi Ibrahim AS dengan metode Tilawah, Tazkiyah dan Ta'lim.
Tilawah berupa keteladanan yang berdimensi psikomotorik (amal shalih). Tazkiyah berupa penjernihan hati yang berdimensi afektif (iman dan akhlak). Ta'lim berupa transmisi ilmu yang berdimensi kognitif (IPTEK).
Orientasinya adalah Meningkatkan Keimanan dan Ketauhidan, Istiqamah
Ibadah Ritual dan Sosial, Berpartisipasi dalam Dakwah dan Tarbiyah, hingga
Menjadi Generasi Muslim Sejati dan Berciri Khas (memiliki shibghah).

Posting Komentar untuk "TAFSIR IJMALI JUZ 1: Persatuan dalam Keberagaman"