Prof. Dr. (H.C.) KH. Muhammad Tholhah Hasan Singosari (1936-…)

Jejak Kehidupan dan Keluarga Nama lengkap Kiai Tholhah adalah Muhammad Tholhah Hasan. Lahir di Tuban, Jawa Timur, pada hari Sabtu Pon,...


Jejak Kehidupan dan Keluarga

Nama lengkap Kiai Tholhah adalah Muhammad Tholhah Hasan. Lahir di Tuban, Jawa Timur, pada hari Sabtu Pon, 10 Oktober 1936. Ayahanda, Tholhah dan ibunda, Anis Fatma, sedangkan kakek beliau bernama Hasan. Kiai Tholhah adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik beliau bernama Afif Najih.

Sejak usia kanak-kanak, Kiai Tholhah sudah ditinggal wafat oleh ayahanda, sehingga diasuh oleh kakek dan nenek beliau di Lamongan. Sejak saat itulah, nama ayahanda dan sang kakek disatukan dengan nama beliau yang semula hanya Muhammad, sehingga menjadi Muhammad Tholhah Hasan.

Kiai Tholhah menikah dengan Hj. Solichah Noor, anak angkat KH. Masykur (Menteri Agama Kabinet Amir Syarifuddin dan Kabinet Ali Sastro Amijoyo serta Ketua DPR-MPR Kabinet Pembangunan III). Pasangan Kiai Tholhah-Hj. Solichah ini dikaruniai 3 (tiga) anak, yaitu dr. Hj. Fathin Furaida, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (Yayasan Rumah Sakit Islam) Jakarta; Ir. Nadya Nafis, Alumni Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB); dan Ir. Mohamad Hilal Fahmi, Alumni Fakultas Teknik Mesin Universitas Islam Malang (UNISMA). Saat ini, Kiai Tholhah tinggal di Jalan Ronggolawe No. 36, Singosari, Malang, Jawa Timur.

Jejak Akademik dan Non-Akademik

Kiai Tholhah menempuh pendidikan tingkat dasar selama enam tahun (1943-1949) di dua lembaga sekaligus, yaitu Sekolah Rakyat (SR) di Brondong Kabupaten Lamongan pada pagi hari; dan Madrasah Ibtidaiyah di Sedayu Lawas Lamongan pada sore hari. Kemudian beliau tidak langsung meneruskan pendidikan formal, melainkan melanjutkan pendidikannya di beberapa pondok pesantren.

Pada tahun 1951, Kiai Tholhah menempuh studi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiah Syafi’iyah (1951-1953) dan Madrasah Aliyah (MA) Salafiah Syafi’iyah (1954-1956) yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Setelah pindah ke Malang, Kiai Tholhah melanjutkan ke perguruan tinggi untuk meraih gelar Sarjana Muda pada Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Merdeka (UNMER) Malang. Jenjang ini ditempuh mulai tahun 1963-1966. Pada tahun 1974, beliau mengambil program sarjana Jurusan Ketatanegaraan, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) yang sekarang berubah menjadi Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang.

Selain pendidikan formal, Kiai Tholhah juga aktif menimba ilmu agama di sejumlah pesantren. Antara lain: Pesantren Kranji (Tarbiyatul Wathon) yang diasuh Kiai Mustofa. Di Pesantren Kranji, Kiai Tholhah mempelajari al-Qur’an dan kitab-kitab dasar seperti Hadis Arba’in karya Imam Nawawi (Hadis), Taqrib (Fikih) dan Jurumiyah (Nahwu). Kemudian berlanjut ke Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, yang diasuh Kiai Abdul Fatah. Di Pesantren Tambak Beras, Kiai Tholhah hanya belajar selama enam bulan, sehingga tidak sempat mengkhatamkan kitab-kitab seperti Fathul Mu’in (Fikih).

Selanjutnya Kiai Tholhah mondok di Pesantren Tebuireng Jombang. Di Pesantren Tebuireng inilah Kiai Tholhah menyerap ilmu dari beberapa kiai, seperti: Kiai Adlan Ali, Kiai Baidlowi, Kiai Mahfud, Kiai Anwar, Kiai Samsuri Badawi, Kiai Samsun dan Kiai Idris. Secara khusus, Kiai Tholhah mendalami ilmu tafsir al-Qur’an dan Hadis di bawah bimbingan KH. Idris dan KH. Adlan Ali. Beliau mondok di Pesantren Tebuireng selama enam tahun (1951-1956). Di antara kitab yang dipelajari Kiai Tholhah di Pesantren Tebuireng adalah Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Khazin, Tafsir al-Jalalayn, Fathul Wahhab, Kifayatul Akhyar, dan disiplin ilmu lain seperti Nahwu-Sharah, Ushul Fikih, Hisab dan Manthiq.

Kiai Tholhah juga pernah mengikuti pondok Ramadhan di Pesantren Al-Hidayah Lasem, Pati, Jawa Tengah, yang diasuh oleh Kiai Ma’sum. Di Pesantren Lasem, Kiai Tholhah mempelajari kitab Shahih Bukhari, Riyadhus Shalihin dan Al-Hikam. Selanjutnya beliau tinggal di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Bungkuk, Singosari, Malang. Namun tidak lagi berstatus sebagai santri, melainkan sebagai pengajar (ustadz).

Jejak Karier Organisasi

Sejak kecil, Kiai Tholhah sudah memiliki kemauan keras untuk mencapai cita-cita. Terbukti, sebagian besar waktu beliau dihabiskan membaca dan mempelajari berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Kiai Tholhah gemar bermukim di lingkungan yang membuat beliau dapat belajar ilmu dan organisasi. Bahkan beliau kerap ditunjuk sebagai ketua beberapa organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Misalnya, ketika masih berstatus siswa MTs Tebuireng, Kiai Tholhah mengikuti organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ketika menjadi mahasiswa, Kiai Tholhah berkiprah di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kiai Tholhah beralih ke PMII.

Semakin dewasa, semakin kaya pengalaman berorganisasi. Di bidang pendidikan, Kiai Tholhah dipercaya memegang jabatan: Kepala Sekolah PGA Al-Ma’arif (1962-1965); Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri di Singosari (1978-1982); Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) Universitas Islam Malang atau UNISMA (1981-1985 dan 1985-1989); Rektor UNISMA (1989-1992 dan 1992-1998); serta Dewan Pembina BKS-BTIS (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta Pusat).

Di bidang organisasi sosial-keagamaan, Kiai Tholhah pernah menjabat sebagai Ketua Ranting NU Singosari (1960); Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Singosari (hingga 1966); Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Malang (1986-1989); salah satu Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur (1986-1992); salah Ketua Tanfidziyah PBNU Jakarta (1990-1994), yaitu Ketua IV Bidang Urusan Luar Negeri; Rois Syuriah PBNU (1994-2009), yaitu Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Kiai Tholhah juga dipercaya menjadi Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat (1995).

Di bidang pemerintahan, Kiai Tholhah pernah dipercaya menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian Pemerintah Daerah (BPH-PEMDA) Kabupaten Malang (1967-1973); Anggota DPRD Kabupaten Malang; hingga akhirnya beliau menorehkan prestasi yang mengagumkan di bidang pemerintahan, yaitu dilantik sebagai Menteri Agama oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 28 Oktober 1999. Beliau menjabat sebagai Menteri Agama pada tahun 1999-2001.

Jejak Prestasi dan Legacy

Kendati banyak belajar tentang ilmu-ilmu umum, Kiai Tholhah justru menaruh perhatian serius terhadap topik pendidikan Islam secara khusus, dan Islamic studies secara umum. Gagasan beliau tidak hanya tersebar di dalam negeri, melainkan juga di forum-forum seminar tingkat internasional yang diselenggarakan di Pakistan, Yordania, Turki, Aljazair, Arab Saudi, Mesir dan negara-negara lainnya.

Dedikasi dan kontribusi keilmuan beliau yang luar biasa, berujung pada gelar Doctor Honoris Causa (Dr. H.C.) yang dianugerahkan oleh Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 30 April 2005. Adapun judul orasi ilmiah yang disampaikan ketika penobatan gelar kehormatan tersebut adalah Pendidikan Islam sebagai Upaya Sadar Penyelamatan dan Pengembangan Fithrah Manusia setebal 111 halaman. Puncaknya, Kiai Tholhah dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam atas SK Mendiknas (2006), sehingga gelar lengkap beliau adalah Prof. Dr. (H.C.) K.H. Muhammad Tholhah Hasan.

Pada bulan Agustus 2008, dalam rangka HUT ke-63 RI, sebanyak 18 tokoh Nasional mendapat anugerah tanda jasa kehormatan dari Presiden SBY, karena dinilai berjasa di berbagai bidang. Kiai Tholhah termasuk salah satu tokoh yang mendapatkan tanda jasa kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana.

Kiai Tholhah dikenal mewariskan banyak yayasan di banyak tempat. Antara lain: Yayasan Universitas Islam Malang (UNISMA), Yayasan Pendidikan Islam Almaaarif Singosari; Yayasan Hizbullah Singosari, Yayasan Sabilillah Blimbing, Yayasan Panti Asuhan Anak Yatim Babus Salam, Yayasan Pondok Pesantren Teknologi “Ummatan Wasathan”. Adapun warisan yang berupa madrasah atau sekolah, antara lain: TK, SDI, MI, SMPI, MTs, SMAI, MA dan SMK di bawah Yayasan Almaarif Singosari; TK dan SDI Sabilillah (inisiator konsep Full Day School / FDS) di bawah Yayasan Sabilillah Blimbing; SMAI di Nongkojajar Pasuruan hingga Madrasah Aliyah Plus di Pekanbaru Riau.

Kiai Tholhah juga berhasil mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) pada tahun 1970 di Singosari yang sekarang menjadi Rumah Sakit Bersalin (Muslimat Medical Center) di bawah Yayasan Kesejahteraan Ummat dan mendirikan Rumah Sakit Islam UNISMA Malang pada tahun 1994 di bawah naungan Yayasan UNISMA. Beliau juga mendirikan Aswaja Center di Batu Malang, Pondok Pesantren Modern dan Lembaga Pendidikan Unggulan di Riau, serta Lembaga Pendidikan Unggulan di Kalimantan.

Lebih dari itu, Kiai Tholhah merupakan ulama yang produktif menulis, baik berupa buku, artikel ilmiah, apalagi makalah seminar. Di antara judul buku karya beliau adalah: Islam dalam Perspektif Sosio-kultural (Jakarta: Lantabora Press, 2000); Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman (Jakarta: Lantabora Press, 2000); Kado Untuk Tamu-tamu Allah (Jakarta: Lantabora Press, 2000); Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia (Jakarta: Lantabora Press, 2004); Dinamika Kehidupan Religius (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004); Diskursus Islam Kontemporer (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004); Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Persepsi dan Tradisi NU (Jakarta: Lantabora Press, 2004); Agama Moderat; Pesantren dan Terorisme (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004); Apabila Iman tetap Bertahan (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004).

Kiai Tholhah merupakan figur ulama yang kaya wawasan dan kebijaksanaan, sehingga petuah-petuah beliau terasa menyejukkan. Misalnya, Kiai Tholhah berpesan: “…. Kita boleh mempunyai pendapat, boleh mengikuti kelompok, bahkan bermazhab, tapi jangan menjadikan semuanya sebagai kebenaran absolut. Semuanya adalah batas yang mampu dicapai manusia. Ini penting sekali dipahami, untuk mengurangi ketegangan-ketegangan perbedaan pendapat di antara berbagai kelompok. Terlebih di zaman ini, banyak sekali benturan-benturan yang diakibatkan ngotot, merasa benar sendiri dan sebagainya.”

*Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber referensi

Singosari, 10 September 2017
Rosidin
http://www.dialogilmu.com


Nama

Arabic,8,Buku,19,English,1,Formal,24,Gallery,1,Indonesia,1,Informal,24,Informasi,3,JurnalIlmiah,13,Korespondensi,1,MakalahIlmiah,6,MOTIVASI,14,Non-formal,7,PAI,12,Profil,2,Resensi,2,StudiIslami,103,TafsirTarbawi,39,
ltr
item
DIALOG ILMU: Prof. Dr. (H.C.) KH. Muhammad Tholhah Hasan Singosari (1936-…)
Prof. Dr. (H.C.) KH. Muhammad Tholhah Hasan Singosari (1936-…)
https://3.bp.blogspot.com/--GX_lEx0KKs/Wdsvl4LZgeI/AAAAAAAAAEg/0v4dEwWcEz8XWEIxODCi01sE49yirUUngCPcBGAYYCw/s320/www.dialogilmu.com%2B-%2Bmain.jpg
https://3.bp.blogspot.com/--GX_lEx0KKs/Wdsvl4LZgeI/AAAAAAAAAEg/0v4dEwWcEz8XWEIxODCi01sE49yirUUngCPcBGAYYCw/s72-c/www.dialogilmu.com%2B-%2Bmain.jpg
DIALOG ILMU
http://www.dialogilmu.com/2017/10/prof-dr-hc-kh-muhammad-tholhah-hasan.html
http://www.dialogilmu.com/
http://www.dialogilmu.com/
http://www.dialogilmu.com/2017/10/prof-dr-hc-kh-muhammad-tholhah-hasan.html
true
1758165964677023620
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy