Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Tarbawi Surat al-Tin [95]: 1-8 Konsep Ekologi Qur'ani

KONSEP EKOLOGI QUR’ANI

Islam merupakan ajaran agama yang lengkap-utuh (komprehensif), karena mengatur interaksi manusia dengan Allah SWT (hablum minallah; theos), sesama manusia (hablum minannas; anthropos); dan lingkungan alam (hablum minal ‘alam; cosmos). Ketiga interaksi ini saling berhubungan satu sama lain. Dalam Islam, interaksi manusia dengan Allah SWT disebut ibadah. Interaksi manusia dengan manusia disebut muamalah. Sedangkan interaksi manusia dengan lingkungan alam disebut ‘imarah (pemakmuran) atau fungsi sebagai khalifah Allah SWT di bumi (Q.S. al-Baqarah [2]: 30).

Kuatnya hubungan antara ibadah, muamalah dan ‘imarah ini disimbolkan oleh Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah. Saat itu, infrastruktur yang pertama kali beliau bangun adalah masjid sebagai pusat ibadah; pasar sebagai tempat bermuamalah dan jembatan sebagai wujud pemakmuran lingkungan. Sampai saat ini pun, Masjid Nabawi berdekatan dengan pusat perbelanjaan. 

Di Indonesia, hubungan ketiganya dapat kita jumpai setiap kali berkunjung ke alun-alun. Menurut sejarah, alun-alun pertama kali didirikan Fatahillah. Alun-alun merupakan simbol relasi yang harmonis antara ibadah, muamalah dan ‘imarah. Misalnya, di alun-alun Kota Malang dan Kota Batu, sama-sama dijumpai pusat ibadah, yaitu Masjid Agung Jami’ Malang dan Masjid Agung An-Nuur Batu; pusat muamalah, seperti pasar tradisional maupun modern; dan taman buatan yang indah dan menarik pengunjung sebagai bukti pemakmuran dan pelestarian lingkungan hidup. 

Masjid Nabawi dan Suasana Pasar di Sekitarnya; serta Alun-alun Kota Malang sebagai Simbol Relasi Harmonis dengan Allah SWT, Manusia dan Alam

Masjid Nabawi dan Suasana Pasar di Sekitarnya; serta Alun-alun Kota Malang sebagai Simbol Relasi Harmonis dengan Allah SWT, Manusia dan Alam (foto: www.arabnews.pk; hu.pinterest.com)

Paparan di atas menunjukkan bahwa Islam memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup. Sebagai bukti ilmiah, penulis menyajikan tafsir Surat al-Tin [95]: 1-8 dari perspektif ekologi.

Demi (buah) tin dan (buah) zaitun. Demi gunung Sinai. Dan demi negeri (Makkah) yang aman ini (Q.S. al-Tin [95]: 1-3)

Ketiga ayat ini menyajikan contoh anugerah Ilahi terkait lingkungan hidup. 

buah zaitun, gunung sinai
Buah Tin dan Zaitun; Gunung Sinai dan Kota Suci Makkah sebagai Representasi Anugerah Ilahi
(foto: slideplayer.info; www.kompasiana.com; www.britannica.com)

  • Pertama, buah tin dan zaitun sebagai bahan konsumsi manusia. Misalnya, buah tin merupakan makanan yang menyehatkan; sedangkan buah zaitun menghasilkan minyak zaitun yang bermanfaat untuk memasak, kosmetik, obat-obatan, sabun, lampu penerangan, dan lain-lain.
  • Kedua, gunung sebagai pasak bumi (Q.S. al-Naba’ [78]: 7). Dalam laman okezone disebutkan, “Sains modern saat ini menjelaskan bahwa pegunungan sebagai penstabil Bumi. Gunung-gunung mempunyai akar di dalam tanah dan mampu mencapai kedalaman yang membuat Bumi menjadi kokoh. Oleh karena akar tersebut berada di dalam tanah atau berada di bawah Bumi, seolah gunung-gunung mempunyai peran bagaikan pasak. Pasak tersebut dapat menahan bumi agar kokoh dan gunung memiliki fungsi menstabilkan kerak Bumi, sehingga mencegah dari pergeseran tanah”. 
  • Ketiga, kota suci Makkah sebagai simbol lingkungan hidup yang aman. Baik aman dari segi ukhrawi, karena di kota suci Makkah terdapat Ka’bah dan Masjidil Haram sebagai pusat ibadah, agar selamat dari ancaman neraka di akhirat; maupun aman dari segi duniawi, karena di kota suci Makkah dilengkapi undang-undang hingga fasilitas-fasilitas yang menjamin masyarakat aman dari berbagai ancaman kemiskinan, kebodohan, kezhaliman, kejahatan, dan sebagainya.

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Q.S. al-Tin [95]: 4-5)

Agar manusia mampu mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga kelestarian alam agar terhindar dari bencana alam; serta menciptakan lingkungan hidup yang aman dan sejahtera; maka Allah SWT menganugerahkan setidaknya lima potensi kepada manusia, yaitu fitrah, hati, akal, nafsu dan panca indera. Apabila manusia memanfaatkan kelima potensi tersebut dengan sebaik-baiknya, niscaya akan muncul manusia-manusia yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) unggul, sehingga dapat mewujudkan lingkungan hidup yang aman dan sejahtera. Dalam istilah al-Qur’an, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yaitu lingkungan hidup yang aman-sejahtera dan dinaungi ampunan Allah SWT. Sebaliknya, apabila manusia mengabaikan kelima potensi tersebut, niscaya akan bertebaran manusia-manusia yang memiliki SDM rendah, sehingga sulit mewujudkan lingkungan hidup yang aman dan sejahtera. 

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu? (Q.S. al-Tin [95]: 6-7)

Berikut contoh perbedaan perilaku manusia yang beriman dan beramal shalih dengan manusia yang perilakunya bertolak-belakang. 

Pertama, Manusia yang fitrahnya normal, akan menyukai lingkungan yang bersih (Q.S. al-Taubah [9]: 108); sedangkan manusia yang fitrahnya melenceng, akan menyukai lingkungan yang kotor. Manusia yang hatinya sehat (qalbun salim), akan merawat dan melestarikan alam; sedangkan manusia yang hatinya sakit (fi qulubihim maradh), akan merusak dan mengeskploitasi alam (Q.S. al-Baqarah [2]: 11-12). 

Manusia yang nafsunya stabil (nafs al-muthmainnah), akan memanfaatkan alam sebagai sarana untuk beribadah dan meraih ridha Ilahi (Q.S. al-Fajr [89]: 27-30); sedangkan manusia yang nafsunya liar (nafs al-ammarah), akan menyalahgunakan alam sebagai sarana untuk kemaksiatan yang mengundang murka Ilahi. Manusia yang akalnya berfungsi, akan mengelola alam demi kemaslahatan umat manusia, seperti Nabi Yusuf AS yang mampu menyajikan inovasi “teknologi pertanian”, sehingga hasil panen pertanian bangsa Mesir dapat bertahan lama dan sukses mengantarkan bangsa Mesir keluar dari krisis pangan (Q.S. Yusuf [12]: 47); sedangkan manusia yang akalnya disfungsi, akan merusak alam demi kepentingan pribadi dan golongan (Q.S. al-Rum [30]: 41). 

Manusia yang memberdayakan panca inderanya, akan mampu mendeteksi gejala-gejala alam, sehingga dapat melakukan mitigasi bencana alam. Mitigasi bencana adalah “serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana”. Inilah yang pernah diteladankan oleh Nabi Nuh AS sesuai wahyu Allah SWT, yaitu membuat bahtera besar agar tidak sampai tenggelam saat diterjang banjir besar yang setinggi pegunungan (Q.S. Hud [11]: 37). Sedangkan manusia yang menyia-nyiakan panca inderanya, hanya sibuk “nyinyir” dan “hate speech” terkait upaya-upaya mitigasi bencana, seperti menghina, menghasut, memprovokasi, menyebarkan berita hoax, dan sebagainya; sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh AS. Mereka tidak mau membantu membuat bahtera, justru mengolok-olok beliau (Q.S. Hud [11]: 38-39).

Bukankah Allah hakim yang paling adil? (Q.S. al-Tin [95]: 8)

Manusia yang terlibat aktif dalam upaya pelestarian dan pengembangan lingkungan alam, niscaya akan diberi balasan positif oleh Allah SWT. Sebaliknya, manusia yang terlibat dalam upaya perusakan dan eksploitasi alam, niscaya akan diberi balasan negatif oleh Allah SWT. Balasan tersebut akan diberikan di dunia dan/atau di akhirat (Q.S. al-Zalzalah [99]: 7-8). Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Allah SWT adalah “Hakim” Yang Maha Adil.
 
Rosidin  

www.dialogilmu.com

Posting Komentar untuk "Tafsir Tarbawi Surat al-Tin [95]: 1-8 Konsep Ekologi Qur'ani"